Beranda

Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh Selamat Datang Di Blog Seuntai Kenangan

16 Februari 2011

Valentine's Day, Penafsiran Cinta yang Keliru

Tanggal 14 Februari telah menjadi hari spesial yang ditunggu-tunggu oleh para remaja di dunia, tak terkecuali remaja di Indonesia. Mereka terlanjur meyakini hari ini sebagai hari kasih sayang yang harus diisi dengan perayaan istimewa. Mulai dari saling tukar kado, menyatakan cinta, ciuman, sampai seks bebas merupakan aktifitas yang turut mewarnai Valentine's Day.

Sejarah Valentine's Day

Valentine's Day yang kini dimaknai sebagai hari kasih sayang, tidak muncul dan diperingati begitu saja. Terdapat beberapa versi tentang asal-usul lahirnya Valentine's Day. Versi pertama, menurut catatan The World Book Encyclopedia (1998) disebutkan bahwa sejarah Valentine's Day bermula dari sebuah kepercayaan di Eropa. Kepercayaan kuno ini menyebutkan bahwa cinta burung jantan dan betina mulai bersemi pada tanggal 14 Februari. Burung-burung memilih pasangannya pada hari itu.

Berdasarkan kepercayaan kuno dikalangan masyarakat Eropa kala itu, lalu kemudian mereka menganjurkan agar pemuda-pemudi memilih pasangannya di hari yang sama seperti berseminya cinta burung jantan dan betina. Apalagi dalam bahasa Perancis Normandia terdapat kata Gelantine yang berarti cinta. Persamaan bunyi antara Gelantine dan Valentine inilah yang dijadikan dasar penetapan hari kasih sayang.

Versi kedua, menghubungkan Valentine's Day ini dengan seorang pendeta. Menurut beberapa ahli sejarah bahwa Valentine's Day diadopsi dari nama seorang pendeta bernama Saint Valentine. Dia ditangkap oleh kaisar Claudius II karena menyatakan Tuhannya adalah Isa Al-Masih. Dia juga menolak menyembah Tuhan-Tuhan orang Romawi. Kaisar lalu memerintahkan agar dia di penjara dan pada akhirnya dijatuhi hukuman gantung. Orang-orang yang bersimpati kepadanya, lalu menulis surat tentang kecintaan mereka kepada doa sang pendeta. Surat itu kemudian dipajang dan diikatkan di terali bekas penjaranya.

Sementara versi ketiga mengacu pada sebuah pesta yang dilakukan orang-orang Romawi
kuno yang disebut Lupercalia. Inilah versi terkuat yang diyakini kebenarannya hingga saat ini. Perayaan Lupercalia merupakan rangkaian pensucian di masa Romawi kuno. Upacara yang khusus dipersembahkan untuk mengenang dan mengagungkan dewi cinta (Queen of Feverish Love) yang bernama Juno Februata. Dalam pesta tersebut, para pemuda mengambil nama gadis di sebuah kotak secara acak. Nama gadis yang diambilnya tadi kemudian menjadi pendampingnya selama setahun untuk bersenang-senang.

Bergesernya Makna Valentine's Day

Seiring berjalannya waktu, tahun 496 M Paus Gelasius I mengubah upacara ini menjadi
hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine's Day. Upacara untuk menghormati
Saint Valentine yang mati digantung oleh kaisar Claudius. Dia digantung karena melanggar aturan kaisar yang melarang para pemuda untuk menikah. Kaisar Claudius
berpendapat bahwa tentara yang masih muda dan berstatus bujangan lebih tabah dan
kuat dalam medan peperangan.

Lelaki yang belum beristri lebih sabar bertahan dalam perang dibandingkan tentara yang sudah menikah. Oleh Karena itu, kaisar memerintahkan untuk melarang kaum laki-laki untuk menikah. Namun, Saint Valentine menentang kebijakan itu. Dia berpendapat bahwa pemuda-pemudi tetap harus mendapat ruang yang luas untuk melampiaskan hasrat cintanya. Dia lalu secara diam-diam menikahkan banyak pemuda.

Sejak orang-orang Romawi kuno mengenal agama Nasrani, maka pesta jamuan kasih sayang ini (pesta Lupercalia) lalu dikaitkan dengan upacara kematian Saint Valentine. Setelah Paus Gelasius menetapkan tanggal 14 Februari sebagai tanggal penghormatan buat Saint Valentine, maka akhirnya perayaan ini berlangsung secara terus menerus setiap tahunnya hingga sekarang.

Hari ini dijadikan sebagai momen untuk saling tukar menukar pesan kasih dan menempatkan Saint Valentine sebagai simbol dari para penabur kasih. Hari Valentine ditandai dengan saling mengirim puisi dan hadiah seperti bunga, cokelat, dan gua-gula. Hari Valentine juga diisi dengan acara kumpul-kumpul, pesta dansa, minum-minuman alkohol hingga pesta seks. Singkatnya perayaan kasih sayang ini dipersembahkan untuk mengagungkan Saint Valentine yang dianggap sebagai simbol ketabahan, kepasrahan, dan keberanian dalam memperjuangkan cinta.

Sikap Seorang Remaja

Lalu bagaimanakah seharusnya sikap kaum remaja khususnya pemuda-pemudi Islam? Haruskah mereka ikut hanyut dalam perayaan itu? Tentu jawabannya tidak. Karena Valentine's Day bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Valentine's Day bersumber dari paganisme orang musyrik penyembah berhala. Valentine's Day justru telah merendahkan dan mempersempit makna cinta.

Cinta dihargai sebatas cokelat, bunga mawar, greeting card, ciuman dan seks bebas. Valentine's Day juga menyempitkan kasih sayang hanya sehari saja. Padahal dalam Islam, kasih sayang itu perlu diaktualisasikan setiap saat dan disetiap tempat. Bahkan kita diperintahkan untuk menyebarkan kasih sayang kepada seluruh manusia.

Perayaan Valentine's Day juga menggiring remaja untuk melakukan seks. Hal itu dapat
kita saksikan dengan jelas dari propaganda mereka. Seorang pakar kesehatan di Inggris bahkan menganjurkan seks di hari Valentine. Direktur kesehatan British Heart Foundation yakni Prof Charles George mengungkapkan bahwa seks bebas tidak saja membakar 100 kalori dalam tubuh, tetapi juga sangat baik untuk kesehatan. Oleh karena itu, dia menganjurkan agar masyarakat di manapun, baik tua maupun remaja, hendaknya mengisi perayaan hari Valentine dengan pesta seks.

Olehnya itu, penulis secara pribadi dan sebagai pendidik mengajak kepada seluruh remaja khususnya pemuda-pemudi Islam untuk menjauhi dan tidak ikut-ikutan dalam perayaan ini. Siapa yang ikut merayakan Valentine's Day berarti dia telah merusak pribadinya sendiri sebagai muslim dan bahkan menjadi bagian dari mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: "Barang siapa yang menyerupai sebuah kaum maka dia menjadi bagian dari mereka." (HR Abu Daud). *sumber www.Syakirin.net
Baca Selengkapnya..

15 Juli 2010

'Ritus Seks' di TransJakarta

Adhim tertimpa ‘musibah’. Pegang pantat mahasiswi membawanya ke penjara. Itu dilakukan di bus TransJakarta. Dia dikenai pasal tindakan tidak menyenangkan. Ancaman hukuman menunggunya. Dan akibat ‘tekanan’ dari banyak pihak, Adhim pun ditahan.

Negeri ini memang seperti hutan belantara bagi masyarakat bawah. Transportasi yang semrawut membuat mata berkunang-kunang sebelum sampai tujuan. Pengap dan sesak berebut angkutan, penumpang mirip ikan pindang ditegakkan. Berdiri baris berjajar, dan kalau ada yang turun, maka gesekan dan bertindihan tak terhindarkan.

Naik angkutan umum di Jakarta juga seperti sedang menjalani ritus suci. Nafsu amarah dikendalikan agar bus tidak berubah menjadi ring tinju. Dan nafsu seks wajib ‘dihilangkan’. Terutama jika berdempetan dengan lawan jenis. Bagaimana pun cantiknya ‘dempetan’ kita, hawa nafsu itu jangan diekspresikan. Jika sampai nafsu birahi menggelegak dan tangan atau pantat bereaksi, jangan menyesal jika terkena pinalti. Prittt ! Dilaporkan polisi.

Itu dialami Adhim. Pengangguran itu bergelantungan di bus TransJakarta. Dia berhimpitan dengan TS, mahasiswi sebuah perguruan tinggi. Gadis cantik bertubuh molek itu membuatnya bernafsu. Refleks tangannya bergerak. Dia gerayangi pantat gadis itu. Sang gadis berteriak, dan yang tak perlu terjadi terjadilah. Adhim dipidanakan.

Moda transportasi Jakarta memang memaksa orang tebal iman. Kita dipaksa untuk menjadi orang yang sabar dan bertawakal. Jangan marah diteriaki, dimaki, digencet dan didorong-dorong. Juga jangan ereksi saat dipaksa berbaris dempet, ketat, laki-perempuan yang kadang bagian sensitif bersenggolan. Kalau sampai tidak tebal iman, maka nasib yang dialami Adhim bukan mustahil menimpa yang lain.

Seorang teman berseloroh, beginilah pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) memberi pendidikan moral bagi rakyatnya. Menguji keimanan melalui desak-desakan laki-perempuan. Meredam amarah dan libido. Dan tak lama lagi akan diinstruksikan agar berzikir selama naik bus. Istighfar supaya selamat dari tindak kriminal.

Sebab jika tidak untuk itu, maka harusnya transportasi ini ditertibkan. Bus mengangkut penumpang dibatasi hanya pada jumlah bangku yang tersedia. Tidak kurang dan tidak lebih. Apalagi bus TransJakarta sejak beroperasi memang diarahkan ke sana. Sebagai angkutan eksklusif dengan fasilitas dan suasana yang mendorong kelas menengah tertarik meninggalkan mobilnya di rumah.

Kini eksklusivitas itu hilang sudah. Adhim ‘menunjukkan’ itu, dan Adhim-Adhim yang lain masih banyak menunggu terjerat. Ini merupakan kasus ketiga yang sempat ramai. Diributkan di tempat, dilaporkan ke polisi, tapi tidak lanjut ditangani. Dan Adhim merupakan orang pertama tersandung masalah pelecehan seksual di bus TransJakarta dan dipenjara.

Jika di TransJakarta baru kasus ketiga pelecehan seksual ini, tidak demikian dengan peristiwa serupa di bus umum dan Kopaja. Sesaknya penumpang menjadikan ‘pelecehan seksual’ menjadi peristiwa lumrah. Beberapa tahun lewat, kasus yang lebih ‘ngeri’ pernah terjadi. Mahasiswi cantik dijadikan ‘alat’ pemuas nafsu. Pantatnya (maaf) digesek-gesek pemuda, dan ulah itu ketahuan saat ejakulasi.

Sang pemuda memang diamankan. Dia mengaku terus terang melakukan itu. Dia bilang terangsang melihat kecantikan serta bentuk tubuh gadis yang berada di depannya. Setelah dihajar ramai-ramai dan babak-belur terkena hukum rimba, pemuda itu dilepas seraya minta maaf dan janji tidak mengulangi perbuatannya lagi.

Di bus kota jam-jam sekolah pelecehan seksual menjadi pemandangan umum. Itu dilakukan dengan sengaja atau ‘terpaksa’. Transporatsi umum yang tidak memadai membuatnya harus ‘dilecehkan’ atau ‘melecehkan’. Malah kalau ada gadis yang ‘terlalu’ sensitif bukan mendapat pembelaan tetapi justru sebaliknya, dicemooh.

Adhim memang tersangka. Dia tergelitik memegang pantat gadis yang ada di depannya. Tapi Adhim juga sekaligus korban. Korban dari moda transporatsi kita yang amburadul dan tidak manusiawi. Kalau Adhim tergolong penjahat kelamin, layak baginya dipidana seberat-beratnya. Tapi jika Adhim melakukan itu akibat jeleknya kondisi pelayanan bus TransJakarta yang merangsangnya melakukan pelecehan seksual, maka pemerintah DKI-lah yang layak untuk dipersalahkan.

Pemerintah DKI merangsang warganya yang baik untuk berbuat jahat. Melakukan ritus seks di bus TransJakarta! *(Djoko Suud) Copy Paste dari detiknews.com
Baca Selengkapnya..

14 Januari 2010

Memberi, Hakikatnya Mendapatkan

Oleh: Sholih Hasyim

Orang beriman sadar bahwa apa yang dimilikinya hanya hak guna (pinjaman), bukan hak milik. Karena yang memilikinya adalah Allah Swt.

Kekayaan seorang mukmin yang paling mahal dalam kehidupan ini adalah manisnya iman kepada Allah Swt. Jika kita memilikinya, sekalipun kita miskin harta, pengaruh, jabatan, tinggal di gubuk reot, mendekam di balik jeruji, hakikatnya kita memiliki segala-galanya dalam kehidupan ini. Sebagaimana pengalaman Nabi Yusuf As.

Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf (12) :

Sebaliknya, meskipun dunia dan seisinya berada di dalam genggaman kita, tetapi kita faqrul iman (miskin iman), maka sejatinya kita tidak memiliki apa-apa. Karena, kita tidak bisa memaknai dan menikmati kehidupan ini. Dunia yang luas tak bertepi ini terasa sempit. Dunia yang terang benderang ini terasa gelap gulita. Orang beriman sekalipun miskin harta, tetapi memiliki kekayaan jiwa (ghinan nafsi).

Oleh karena itu kita harus berjuang tanpa mengenal lelah, dengan tenaga, fikiran, potensi yang kita miliki untuk mencapai manisnya iman (halawatul iman). Betapapun tinggi gunung kita daki, lautan yang tidak bertepi kita arungi, semua untuk memperoleh kenikmatan spiritual (lazzatur ruhi), yang diserap dari iman itu. Karena, di tengah-tengah perjuangan itu Allah Swt akan menggantinya dengan dua surga. Surga di dunia dengan kehidupan yang bahagia (hayatun thayyibah) dan surga di akhirat, selamat dari siksa neraka.

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar (QS. Yunus (10) : 62-64).

Namun, bagaimanakah iman yang sebenarnya, aqidah salimah (steril dari kontaminasi kemusyrikian) merujuk referensi Islam itu?

Iman yang benar adalah keyakinan yang terhunjam di kedalaman hati, diucapkan dengan lisan, dan dibuktikan dengan seluruh anggota tubuh. Keyakinan bulat, tiada keraguan sedikit pun (al-yaqinu kulluhu). Dan mampu mempengaruhi orientasi kehidupan (ittijahul hayah). Iman tidak sekedar amal perbuatan, bukan pula sebatas pengetahuan tentang rukun Iman.

Iman bukan pula sekedar ucapan lisan seseorang yang mengaku bahwa dirinya orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun dengan lisannya menyatakan hal yang serupa, tetapi hatinya mengingkari statemennya sendiri. (QS. Al-Baqarah (2) : 8-9).

Iman pula tidak sebatas amal perbuatan an sich yang secara lahiriah merupakan ciri khusus perbuatan orang beriman. Sebab, orang-orang munafik pun tidak sedikit yang secara permukaan mengerjakan ibadah dan berbuat baik (fi’lul khoir), sedangkan hatinya kontradiksi dengan penampakan lahiriahnya. Apa yang dikerjakan tidak didasari kemurnian niat untuk mencari ridha Allah Swt (QS. An-Nisa (4) : 142). Iman juga bukan sekedar pengetahuan akan makna dan hakikat iman, tidak sedikit orang yang mendalami hakikat dan makna iman, tetapi mereka tetap saja ingkar (QS. An-Naml (27) : 14), (QS. Al-Baqarah (2) : 146).

Dengan demikian, iman membutuhkan penerimaan oleh akal hingga mencapai keyakinan yang benar-benar kuat, tidak lentur dengan perasaan bimbang. (QS. Al-Hujurat (49) : 15). Iman di samping menuntut adanya pengetahuan, pemahaman dan keyakinan yang kokoh, dia juga mensyaratkan adanya kepatuhan hati, sami’na wa ‘atha’na (kami dengar dan kami patuh), kesediaan dan kerelaan menjalankan perintah (instruksi) Allah Swt dan Rasul-Nya, serta ulil amri yang dipilih-Nya (QS. An-Nisa (4) : 65), (QS. An-Nur (24) : 51), (QS. Al-Ahzab (33) : 36).

Di samping pengetahuan dan penerimaan, iman sepatutnya membangkitkan semangat untuk beramal, berjuang dengan harta dan jiwa, sesuai dengan yang dituntut oleh iman itu sendiri dan kewajiban orang beriman (QS. Al-Anfal (8) : 2-4).

Dalam menyajikan ilustrasi tentang iman, Al-Quran selalu mengambil bentuk sebagai perilaku terpuji dan amal yang mendatangkan manfaat, yang merupakan garis pembeda antara orang-orang yang beriman dengan orang-orang kafir dan munafik (QS. Al-Mukminun (23) : 1-5).

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya, orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya (QS. Al-Mukminun (23) : 1-5).

Iman dan Kekayaan

Orang beriman sadar bahwa apa yang dimilikinya hanya hak guna (pinjaman), bukan hak milik. Karena yang memilikinya adalah Allah Swt. Maka, dilandasi oleh keimanan ia ikhlas memberikan sesuatu, sekalipun pada saat akan mengeluarkan ada perasaan berat, tetapi keimanannnya itu mengantarkannya untuk rela memberi. Ia yakin dengan memberi, hakikatnya akan mendapatkan balasan yang lebih baik. Balasan itu tidak akan salah alamat, pasti akan mengenai dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Justru infak yang paling tinggi nilainya adalah ketika akan dikeluarkan banyak sekali pertimbangannya, dan berat hati untuk memulainya.

Bahkan bersedia memberikan yang lebih banyak, melebihi dari yang diwajibkan, karena yakin bahwa apa yang diberikannya untuk menunaikan kewajiban kepada Allah Swt. Itulah yang kekal abadi. Sedangkan apa yang di genggaman tangannya akan hilang, lenyap tanpa bekas. Apa yang kita berikan untuk kebaikan, itulah milik kita sebenarnya.

Sebagai contoh kita nukilkan di sini pengalaman ruhani seorang sahabat Rasulullah Saw bernama Ubay bin Ka’ab:

“Aku pernah diutus oleh Rasulullah Saw mengumpulkan zakat. Dalam menjalankan tugas ini, aku berjumpa dengan seorang laki-laki yang akan dipungut zakat hartanya. Setelah dikumpulkan semua ternaknya, maka menurut pendapatku dia hanya berkewajiban membayar bintu makhadh (unta yang sangat mudah). Aku katakan kepadanya: Berikanlah seekor bintu makhadh, karena hanya itu zakat yang diwajibkan kepadamu. Dia menjawab: Unta seusia itu belum mempunyai susu dan belum dapat dikendarai. Inilah seekor onta muda, besar dan gemuk. Ambillah ia !. Aku menjawab: Aku tidak akan mengambil apa yang tidak diperintahkan kepadaku. Kini Rasulullah Saw tidak jauh dari kita. Engkau bisa menemui beliau, mengutarakan apa yang telah kau utarakan kepadaku ini. Kalau Rasulullah Saw menyetujui, tentu aku pun menerimanya. Sebaliknya, jika beliau tidak sepakat, maka aku pun menolaknya. Lelaki itu berkata: Boleh. Lalu kami pergi bersama dengan membawa onta tersebut. Kami menjumpai Rasulullah Saw, lalu laki-laki itu berkata: Ya Rasulullah! Utusanmu telah datang kepadaku. Demi Allah, sebelum ini, baik Rasulullah Saw sendiri maupun utusannya belum pernah mengambil zakat dari hartaku. Lalu aku kumpulkan ternakku, hingga utusanmu berkata: Kewajibanmu hanya membayar bintu makhadh. Unta seperti itu belum mempunyai susu dan belum bisa dikendarai. Aku kemukakan kepadanya supaya dia mengambil seekor onta yang muda dan besar, tetapi dia tidak mau menerimanya. Dan inilah onta itu, kubawa kepadamu, ya Rasulullah, ambillah ia. Rasulullah Saw menjawab: Kewajibanmu hanya itu (bintu makhadh). Tetapi kalau engkau berbuat kebaikan dengan suka rela, niscaya Allah Swt akan memberi pahala kepadamu karenanya, dan kami pun menerimanya. Lelaki itu berkata: Inilah onta itu, ya Rasulullah! Telah kubawa kepadamu. Karena itu terimalah ia. Lalu Rasulullah Saw memerintahkan kepada utusannya itu untuk menerimanya dan mendoakan keberkahan hartanya.” [HR. Abu Daud].

Al-Hamdulilllah, setelah bersedekah dan didoakan oleh manusia pilihan (al-Musthofa) itu, hartanya menjadi barakah, bertambah kebaikannya, semakin berlimpah, baik secara kuantitas dan kualitas. Keluarganya semakin harmonis, anak dan istrinya semakin patuh. Dia terhindarkan dari berbagai penyakit yang selama ini diidapnya. Karena sedekah itu bisa menolak bala’ (Ash-Shadaqatu tadfa’ul bala’). Dia sering mendapatkan jalan keluar dari berbagai kesulitan yang ditemuinya. Bahkan, orang-orang terdekatnya semakin cinta, simpati, dan selalu membelanya. Hashshinuu amwalaku biz zakat (bentengilah harta kekayaanmu dengan zakat), meminjam istilah Umar bin Khathab.

Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah (QS. Al-Lail (92) : 5-7).

Apabila kita dalam kondisi papa, keluarkan harta yang paling kita senangi, niscaya Allah Swt akan menghilangkan kemiskinan kita itu. Apabila kita memiliki kecukupan, keluarkanlah infaq, niscaya Allah Swt akan menambah kekayaan kita. Apabila kita kaya, gemarlah berinfaq dengan tulus, supaya semakin kaya. Dan apabila kita sedang sakit, berinfaklah, Insya Allah sakit itu akan segera disembuhkan oleh-Nya. Sedekah adalah solusi yang jitu untuk mengatasi berbagai kerumitan kehidupan kita. Semoga kita bisa mengambil ‘ibrah (pelajaran), ‘ubur (jembatan menuju puncak sukses) dari kisah tadi.

Akrabilah Allah Swt di saat lapang, maka Ia akan mendatangimu ketika sempit (Hadits Qudsi). Wallahu a’lam bishshawab. *hidayatullah.com
Baca Selengkapnya..

Lima (5) Indeks Posting Terakhir